Selasa, 21 September 2021

RINGKASAN MATERI BAB 1 ATMAN (PERTEMUAN 1)

 kd  :  3.1 memahami sifat-sifat Atman yang tertuang dalam kitab suci bhagawadgita

 

  IPK :  3.1.1  Mampu menjelaskan konsep Atman

              3.1.2  Mampu menyebutkan sifat-sifat Atman

              3.1.3  Mampu menyebutkan   bagian-bagian dari Atman


 

RINGKASAN  MATERI aTMAN


A.    PENGERTIAN ātmān

Kata ātmān berasal dari akar kata an artinya nafas. ātmān merupakan hakikat dasar dalam kehidupan yang menyebabkan mahkluk hidup, mengalami rasa senang dan duka.  Setiap yang bernapas mempunyai ātmān sehingga mereka dapat hidup. Ātmān adalah hidupnya semua makhluk (manusia, hewan dan tumbuhan).

Manusia, hewan dan tumbuhan adalah mahkluk hidup yang terjadi dari dua unsur yaitu badan dan ātmān yang terbentuk dari lima unsur kasar yaitu panca maha bhuta. Sesungguhnya ātmān adalah sebuah energi hidup  bersumber dari Paramatman (sumber dari segala sumber hidup ), ātmān berasal dari Sang Hyang Widhi yang memberikan hidup kepada setiap mahkluk ātmān disebut juga Sang Hyang Urip.

Semua yang hidup memiliki ātmān, ātmān dan badan diibaratkan bagaikan hubungan kusir dan kereta. Kusir adalah ātmān dan kereta adalah badan indria yang ada pada badan tidak berfungsi apabila tidak ada ātmān. Jika ātmān lepas dari tubuh maka mahkluk akan mati. Badan jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun ātmān tetap langgeng untuk selamanya

 

B.     sifat-sifat ātmān

Dalam bhagavadgita disebutkan sifat-sifat ātmān, antara lain:

1.      Antarjyotih artinya bersinar tanpa ada yang menyinari, tanpa awal , tanpa akhir dan sempurna

2.      Acchedyo artinya tak terlukai senjata,

3.      Adahyo artinya tak terbakar oleh api,

4.      Asosya artinya tak terkeringkan oleh angin,

5.      Akledyo artinya tak terbasahkan oleh air,

6.      Nitya artinya kekal abadi,

7.      Sarwagatah artinya ada di mana-mana,

8.      Sthanur artinya tidak berubah

9.      Acala artinya tidak bergerak,

10.  Awyakta artinya tidak dilahirkan,

11.  Achintya artinya tak terpikirkan,

12.  Awikara artinya tidak berubah, dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan

13.  Sanatanah  artinya abadi selamanya.

 

C.    BAGIAN BAGIAN ātmān

Bagian-bagian ātmān terdapat pada sapta loka diantaranya adalah :

No

Tujuh lapisan ātmān

Sapta Loka (Sapta Pada) tujuh tingkatan alam atas

1

2

3

4

5

6

7

Atman

Antaratman

Paramatman

Niratman

Adhyatma

Niskalatma

Sunyatma

Bhur Loka (Jagra Pada)

Bhuwah Loka (Swapada Pada)

Swah Loka (Supta Pada)

Tapa Loka (Turya Pada)

Jana Loka (Turyanta Pada)

Maha Loka (Kewala Pada)

Satya Loka (Parama Kewala Pada)

 

Bagian-bagian ātmān  terdapat dalam Sapta Loka yaitu alam Bwah Loka dan Swah Loka yang digabung jadi satu, Adapun ke7 (tujuh) lapisan alam sapta loka ialah :

1.      Bhur Loka (Jagra Pada) Mayapada ātmān lahir ke dunia ini disebutkan kesempatan yang sangat baik untuk merealisasi moksha

2.      Bhuwah Loka (Swapada Pada) Alam halus keadaannya mirip dengan di bumi, ātmān mengalami kerinduan akan keinginan-keinginan duniawi, serta mengalami kesedihan dan kebahagiaan

3.      Swah Loka (Supta Pada) ātmān pada alam ini belum menghentikan roda samsara, ada waktunya nanti sang jiwa harus kembali lahir ke dunia untuk melanjutkan evolusi bathinnya serta menyelesaikan sisa putaran karma wasananya sendiri

4.      Tapa Loka (Turya Pada) ātmān  lahir di alam ini menjadi kesadaran kosmik.

5.      Jana Loka (Turyanta Pada) ātmān berevolusi bathinnya dan menyelesaikan sisa putaran karmanya di lapisan alam ini

6.      Maha Loka (Kewala Pada) ātmān lahir di lapisan alam ini karena welas asih memutuskan untuk reinkarnasi kembali

7. Satya Loka (Parama Kewala Pada) di alam ini ātmān menjadi maha sempurna untuk bisa menyatu dan manunggal dengan Sang Hyang Widhi  

Sabtu, 18 September 2021

NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM ASTADASA PARWA (MAHABHARATA)

 Adapun nilai-nilai yang terkandung di dalam teks Astadasaparwa diantaranya adalah: Nilai ajaran dharma, nilai kesetiaan, nilai pendidikan dan nilai yajna (korban suci). Nilai-nilai ini kiranya ada manfaatnya untuk direnungkan dalam kehidupan dewasa ini.


Pertama, Nilai Dharma (kebenaran hakiki) ,
inti pokok cerita Mahabharata adalah konflik (perang) antara saudara sepupu (Pandawa melawan seratus Korawa) keturunan Bharata. Oleh karena itu Mahabharata disebut juga Maha-bharatayuddha. Konflik antara Dharma (kebenaran/kebajikan) yang diperankan oeh Panca Pandawa) dengan Adharma (kejahatan/kebatilan ) yang diperankan oleh Seratus Korawa. Dharma merupakan kebajikan tertinggi yang senantiasa diketengahkan dalam cerita Mahabharata. Dalam setiap gerak tokoh Pandawa lima, dharma senantiasa menemaninya. Setiap hal yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan, menyenangkan hati diri sendiri, sesama manusia maupun mahluk lain, inilah yang pertama dan utama Kebenaran itu sama dengan sebatang pohon subur yang menghasilkan buah yang semakin lama semakin banyak jika kita terus memupuknya. Panca Pandawa dalam menegakkan dharma, pada setiap langkahnya selalu mendapat ujian berat, memuncak pada perang Bharatayuddha. Bagi siapa saja yang berlindung pada Dharma, Tuhan akan melindunginya dan memberikan kemenangan serta kebahagiaan. Sebagaimana yang dilakukan oleh pandawa lima, berlindung di bawah kaki Krsna sebagai awatara Tuhan. " Satyam ewa jayate " (hanya kebenaran yang menang).

Kedua, nilai kesetiaan (satya) ,
cerita Mahabharata mengandung lima nilai kesetiaan (satya) yang diwakili oleh Yudhistira sulung pandawa. Kelima nilai kesetiaan itu adalah: Pertama, satya wacana artinya setia atau jujur dalam berkata-kata, tidak berdusta, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Kedua, satya hredaya, artinya setia akan kata hati, berpendirian teguh dan tak terombang-ambing, dalam menegakkan kebenaran. Ketiga, satya laksana, artinya setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah diperbuat. Keempat, satya mitra, artinya setia kepada teman/sahabat. Kelima, satya semaya, artinya setia kepada janji. Nilai kesetiaan/satya sesungguhnya merupakan media penyucian pikiran. Orang yang sering tidak jujur kecerdasannya diracuni oleh virus ketidakjujuran. Ketidakjujuran menyebabkan pikiran lemah dan dapat diombang-ambing oleh gerakan panca indria. Orang yang tidak jujur sulit mendapat kepercayaan dari lingkungannya dan Tuhan pun tidak merestui.

Ketiga, nilai pendidikan,
sistem Pendidikan yang di terapkan dalam cerita Mahabharata lebih menekankan pada penguasaan satu bidang keilmuan yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Artinya seorang guru dituntut memiliki kepekaan untuk mengetahui bakat dan kemampuan masing-masing siswanya. Sistem ini diterapkan oleh Guru Drona, Bima yang memiliki tubuh kekar dan kuat bidang keahliannya memainkan senjata gada, Arjuna mempunyai bakat di bidang senjata panah, dididik menjadi ahli panah.Untuk menjadi seorang ahli dan mumpuni di bidangnya masing-masing, maka faktor disiplin dan kerja keras menjadi kata kunci dalam proses belajar mengajar.

Keempat, nilai yajna (koban suci dan keiklasan) ,
bermacam-macam yajna dijelaskan dalam cerita Mahaharata, ada yajna berbentuk benda, yajna dengan tapa, yoga, yajna mempelajari kitab suci ,yajna ilmu pengetahuan, yajna untuk kebahagiaan orang tua. Korban suci dan keiklasan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud tidak mementingkan diri sendiri dan menggalang kebahagiaan bersama adalah pelaksanaan ajaran dharma yang tertinggi (yajnam sanatanam).

Kegiatan upacara agama dan dharma sadhana lainnya sesungguhnya adalah usaha peningkatan kesucian diri. Kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan.:
"Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran (satya), atma disucikan dengan tapa brata, budhi disucikan dengan ilmu pengetahuan (spiritual)"

Nilai-nilai ajaran dalam cerita Mahabharata kiranya masih relevan digunakan sebagai pedoman untuk menuntun hidup menuju ke jalan yang sesuai dengan Veda. Oleh karena itu mempelajari kita suci Veda, terlebih dahulu harus memahami dan menguasai Itihasa dan Purana (Mahabharata dan Ramayana), seperti yang disebutkan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 49 sebagai berikut :
"Weda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna, dengan jalan mempelajari itihasa dan purana, sebab Weda itu merasa takut akan orang-orang yang sedikit pengetahuannya"



Makna Filosofis Astadasaparwa (Mahabharata)

Tubuh manusia memiliki 10 organ (indriya), yaitu lima organ sensorik (jinanendriyas) dan lima organ motorik (karmendriyas), dan sebuah "antahkarana" atau organ/indera internal. Sedangkan organ sensorik dan motorikadalah organ eksternal (bahihkarana). Antahkarana berhubungan langsung dengan tubuh fisik. Antahkarana merupakan bagian intrinsik dari pikiran itu sendiri. Berkat kerja dari bagian inilah pikiran kita bisa merasakan perut yang kosong,dan kemudian merasa lapar. Begitu perut kosong, pikiran mulai mencari makanan, dan hal ini diekspresikan melalui aksi fisik. Jadi terdapat dua bagian, yang satu merupakan bagian intrinsik pikiran, dan satu bagian lagi adalah kesepuluh organ.

Yang mendorong terjadinya aktivitas adalah antahkarana. Antahkarana tersusun atas pikiran sadar (conscious) dan bawah sadar (subconscoius). Maka jika antahkarana menginginkan sesuatu, maka tubuh fisiklah yang bekerja menurut keinginan tersebut.

Dalam Sanskrit dikenal enam arah utama yang dinamakan "disha" atau "pradisha": Utara, Selatan, Timur, Barat, Atas, dan Bawah. Juga terdapat empat sudut yang dinamakan "anudisha": Barat Laut (iishana), Barat Daya (agni), Tenggara (vayu) dan Timur Laut (naerta). Jadi seluruhnya ada sepuluh.

Pikiran sesungguhnya buta. Dengan pertolongan "wiweka" (conscience/hati nurani) maka pikiran bisa melihat dan memvisualisasikan sesuatu. Jadi pikiran dapat dilambangkan dengan Dhritarastra (Seorang raja yg buta dalam kisah Mahabharata), dan daya fisik, yaitu kesepuluh organ dapat bekerja dalam sepuluh arah secara simultan. Jadi pikiran memiliki 10 organ X 10 arah = 100 ekpresi eksternal. Dengan kata lain, ke-100 putra Dhritasastra melambangkan seratus ekspresi eksternal ini.

Bagaimana dengan Pandawa?

Mereka melambangkan lima faktor fundamental dalam struktur manusia.
1. Sadewa/Sahadeva melambangkan faktor padat, mereprestasikan cakra muladhara (kemampuan untuk menjawab segala sesuatu).
2. Nakula pada cakra svadhisthana. Nakula berarti "air yang mengalir tanpa memiliki batas". "Na" berarti "Tidak", dan "kula" bararti "batas", melambangkan faktor cair.
3. Arjuna, melambangkan energi atau daya, faktor cahaya pada cakra manipura, selalu berjuang untuk mempertahankan keseimbangan.
4. Bhima, putra Pandu, adalah faktor udara "vayu", terdapat pada cakra anahata.
5. Terakhir adalah Yudhisthira, pada cakra vishuddha, dimana terjadi peralihan dari sifat materi ke sifat eterik.
Jadi pada pertempuran antara materialis dan spiritualis, antara materi kasar dan materi halus, Yudhisthira tetap tak terpengaruh."Yudhi sthirah Yudhisthirah" artinya "Orang yang tetap tenang/diam saat pertempuran dinamakan Yudhisthira".

Krsna terdapat pada cakra sahasrara. Jadi ketika kundalinii (Keagungan yang tertidur) terbangkitkan, naik dan menuju perlindungan Krsna dengan bantuan Pandawa, maka Jiiva (unit diri) bersatu dengan Kesadaran Agung. Pandawa menyelamatkan jiiva dan membawanya ke perlindungan Krsna.

Sanjaya adalah menteri-nya Dhritarastra. Sanjaya adalah wiweka(Nalar/pertimbangan). Dhritarastra bertanya kepada Sanjaya, karena ia sendiri tidak bisa melihatnya, "Oh Sanjaya, katakan padaku, dalam perang Kuruksetra dan Dharmaksetra, bagaimana keadaan pihak kita?"

Keseratus putra Dhritarastra, pikiran yang buta, mencoba menguasai jiiva, yang diselamatkan oleh Pandawa melalui pertempuran. Akhirnya kemenangan ada di pihak Pandawa, mereka membawa jiiva ke perlindungan Krsna. Inilah arti filosofis dari Mahabharata.

Kuruksetra adalah dunia tempat melakukan aksi, dunia eksternal, yang menuntut kita terus bekerja. Bekerja adalah perintah. "Kuru" artinya "bekerja", dan ksetra artinya "medan", Dharmaksetra adalah dunia psikis internal. Disini Pandawa mendominasi.

PENGGUNAAN UPAKARA

Semua tetandingan upakara atau banten, dapat dipergunakan sebagai sarana persembahan atau aturan untuk memohon keselamatan dan Nyomya Bhuta kala-Bhuta kali sesuai dengan jenisnya masing-masing. Selain itu upakara yang kecil-kecil dapat dipakai untuk melengkapi banten-banten yang lainnya.


Jenis upakara yadnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Nitya Karma, yaitu yadnya yang dihaturkan pada setiap harinya, setelah selesai memasak dan sebelum makan, mempergunakan banten jotan, saiban atau yadnya sesa, tempatnya di dapur dan di palemahan pekarangan.
Upakara di Parhyangan dapat berupa canang dan soda, disesuaikan dengan kebiasaan setempat sesuai kemampuan, maksud dan tujuannya
2. Naimitika Karma, yaitu yadnya yang dihaturkan secara berkala seperti :
‡ 5 hari sekali pada Hari Keliwon
Sarana upakaranya : segehan putih kuning. Pada parhyangan berupa canang genten, canang pabersihan dan wangi-wangian atau ditambahi lagi dengan kebiasaan setempat dilanjutkan dengan sembahyang.
‡ 15 hari sekali pada Hari Kajeng Keliwon
Sarana upakaranya : segehan kajeng keliwon. Pada parhyangan, pada dasarnya sama dengan pada hari Keliwon dilengkapi lagi dengan banten Tipat di Pelinggih Penunggun Karang dan di Taksu bila ada.
‡ Pada Hari Purnama dan Tilem
Pada Parhyangan berupa canang pabesihan, canang burat wangi lenga wangi, wangi-wangian dapat lagi dilengkapi dengan kebiasaan yang dilakukan.
Pada suatu tempat bagi umat yang belum mempunyai Pelinggih permanen atau masih turus lumbung (semi permanen) ada yang membiasakan mengganti Pelinggih berupa Daksina, pada setiap Purnama biasanya diganti. Untuk penggantian ini dilengkapi dengan banten Pejati yaitu terdiri dari : Daksina Pelingih (dihias), Peras, Penyeneng, Soda, Tipat Kelanan, dan sebuah segehan cacahan. Setelah selesai, daksina yang diganti disurud atau diturunkan dan Daksina Pelinggih yang baru disthanakan. Dilanjutkan dengan sembahyang.
‡ Pada hari Anggara Kasih (Keliwon), Buda Wage (Cemeng), Buda Keliwon dan hari-hari suci lainnya
Hampir semuanya dipergunakan untuk memohon penyucian diri, sarana upakaranya di Parhyangan memakai canang pabersihan, canang genten, canang lenga wangi burat wangi dan wangi-wangian, dilengkapi lagi dengan kebiasaan setempat sesuai dengan kemampuan, maksud dan tujuannya, sedngkan untuk segehannya, menyesuaikan dengan Keliwon atau Kajeng Keliwon.
‡ Upakara peringatan hari lahir (oton) bagi anak yang belum tanggal gigi
Sarana upakaranya,
⁂ Prayascita;
⁂ Banten tatabannya terdiri dari :
 Dapetan, Peras, Penyeneng, Soda, ditambah satu jenis sasayut (dapetan Tumpeng 5 buah)
 Dapetan Tumpeng 7 buah, terdiri dari :
Dapetan, Peras, Penyeneng, Pengambyan, Soda, Tipat Kelanan, ditambah dengan beberapa jenis sasayut.
⁂ 2 buah soda atau canang
Satu tanding dihaturkan di Sanggah Kemulan dihadapan Bhatara Hyang Guru dan satu tanding lagi kehadapan Hyang Dumadi, fungsinya sebagai hatur piuning atau permakluman.
‡ Upakara peringatan hari lahir (oton) bagi anak yang telah tanggal gigi
Sarana upakaranya,
⁂ Byakala
⁂ Banten tataban
 Dapetan, Peras, Penyeneng, Soda, ditambah satu jenis sasayut (dapetan Tumpeng 5 buah)
 Dapetan Tumpeng 7 buah, terdiri dari :
Dapetan, Peras, Penyeneng, Pengambyan, Soda, Tipat Kelanan, ditambah dengan beberapa jenis sasayut, masing-masing dilengkapi dengan jenis sasayut sesuai kemampuan, maksud dan tujuan dan tebasan disesuaikan dengan kemampuan, maksud, dan tujuan.
⁂ 2 buah soda atau canang
Pengaturannya sama seperti di atas.
‡ Upakara Tawur Ka Sanga
Upakara Bhuta Yadnya berupa tawur ka sanga dalam menyongsong Tahun Baru Saka yang dihaturkan pada hari Tilem ke sanga juga dikenal dengan hari Pengerupukan yaitu sehari sebelum Nyepi (Tahun Baru Caka) bagi tiap-tiap rumah tangga, adalah sebagai berikut :
⁂ Di Parhyangan : banten canang atau soda seadanya atau yang lebih besar berupa Banten Pejati sebagai hatur Piuning permakluman (perumahan) di halaman bawah segehan cacahan.
⁂ Di Lebuh : letaknya di sebelah kanan pintu keluar pekarangan rumah, upakaranya terdiri dari :
 Segehan nasi sasah 108 tanding ditujukan pada Sang Bhuta Kala dan Sang Kala Bala.
 Segehan nasi sasah panca warna sebanyak 9 tanding diletakkan pada semua arah mata angin, ditujukan pada Sang Bhuta Raja.
 Segehan agung memakai alas nyiru berisi 11 tangkih nasi mengarah 9 penjuru mata angin dan untuk alam tengah dan atas dengan perlengkapannya, ditujukan pada Sang Bhuta Kala Raja.
 Selesi menghaturkan segehan, segenap anggota keluarga dengan peralatan dapur bertempat di Natah Pekarangan maprayascita dan bagi anak yang belum tanggal gigi, bagi anak yang sudah tanggal gigi mabyakala. Untuk perlengkapan upakara lain, disesuaikan dengan petunjuk setempat.
Untuk pelaksanaan upacara pengerupukan ini baiknya dilaksanakan pada hari Sandi Kala.
‡ Upakara Piodalan Alit, terdiri dari :
⁂ Upakara Pasaksi di Sanggah Surya, terdiri dari daksina, peras, ajuman/soda, pabersihan, dan canang burat wangi lenga wangi.

⁂ Upakara di Pelinggih Utama, terdiri daksina, peras, soda, pabersihan, canang burat wangi lenga wangi, dan sasayut mertha dewa.
⁂ Upakara pada Pelinggih yang lainnya terdiri dari canang burat wangi, lenga wangi dan pabersihan.
⁂ Upakara Ayaban Ida Bhatara terdiri dari daksina, peras, penyeneng, pengambyan, pabersihan, sesayut sida karya, sesayut sida purna, rantasan, cecepan, penastan dan tabuh-tabuhan.
⁂ Upakara di Halaman Tempat Suci, berupa : segehan cacahan panca warna atau segehan agung.

Sumber : Buku Perwujudan Upakara untuk Upacara Agama Hindu oleh Dra. Ni Made Sri Arwati, 2005.hal. 24-27

Rabu, 15 September 2021

RINGKASAN MATERI BAB 2 SAPTA TIMIRA (PERTEMUAN 2)

 

1.      Surupa

Surupa adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena wajah cantik atau rupa yang tampan.  Kecantikan atau ketampanan yang merupakan anugrah dari Tuhan, Kegantengan atau kecantikan seseorang kadang kala menyebabkan yang bersangkutan menjadi angkuh, sombong dan tinggi hati. Semestinya kegantengan atau kecantikan wajah dibarengi dengan perilaku yang baik, budi yang luhur. Orang yang ganteng atau cantik, hendaknya dapat mengendalikan diri dengan membuang jauh-jauh sikap dan perilaku yang tidak baik disertai dengan keluhuran budi, bila tidak demikian tidak ada nilainya karena semuanya itu tidaklah kekal. Hendaknya surupa ini tidak dibiarkan menjadi penyebab dari kehancuran.

Perjalanan mahkluk lahir – hidup – mati :


    Tidak dipernolehkan mabuk rupa yang menjadikan manusia sombong, angkuh, lupa diri bahkan karena rupa digunakan untuk mengoda laki-laku hidung belang seperti yang banyak dilakukan oleh wanita tuna susila mengoda laki-laki dan menjual tubuhnya. Contoh yang dapat dijadikan teladan seperti dewi sita istri rama walaupun telah diculik oleh rahwana tetapi dewi sita tetap mempertahankan kesucianya walaupun sering sekali digoda rahwana di taman alengka, dewi sita tidak hanya cantik rupanya tetapi dia juga cantik hatinya.

Upaya menghindari agar tidak mabuk rupa:

-        Mensyukuri anugrah Tuhan

-   Selalu menyadari bahwa kecantikan tidak kekal (bila sudah tua badan akan keriput, bungkuk danrenta)

-          Selalu mengingat bahwa yang selalu dihargai orang lain adalah kebaikan budi pekerti luhur.

 

2.      Dhana

Dhana adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena banyak mempunyai harta benda atau kekayaan. Kekayaan dapat berwujud rumah, barang-barang, emas, motor, tanah, TV, uang, dll. Harta dapat mewujudkan tujuan hidup “Moksartham jagadhita ya ca iti dharma” (kesejahteraan jasmani dan rohani) harta merupakan sarana hidup untuk mencapai Moksa dan tujuan hidup bukan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya

Kekayaan itu besar gunanya, namun besar juga godaannya, karena pengaruh kekayaan orang sering menjadi lupa diri dan mabuk dana, ciri-ciri orang mabuk dana yaitu sering mengunakan harta untuk kepentingan sendiri, tidak pernah memberi sedekah (berdana punia), menepuk dada, angkuh, sombong dan sering tidak mau menolong orang lain, menghina orang lain, mengumbar hawa nafsu dan lupa diri.

Upaya pengunaan harta benda yang baik agar kita terhindar dari mabuk dana:


karena itu pergunakanlah kekayaan itu untuk kepentingan yang sesuai dengan dharma, perilaku yang baik sesuai dengan ajaran agama. Karena itu orang yang memiliki banyak harta benda seyogyanya dapat menjaga diri, tidak menepuk dada atau tidak sombong dengan harta bendanya.


3.      Guna

Guna adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena mempunyai kepintaran atau kepandaian. Orang yang pandai juga kadang lupa diri, menganggap orang lain tidak tahu apa-apa. Orang seperti ini cenderung angkuh dan kurang disukai oleh masyarakat selain itu kepandaian dapat membahayakan menimbulkan kegelapan pikiran untuk melakukan perbuatan yang terlarang seperti; menipu, memfitnah, memperalat orang, mengadu domba dan sebagainya. Oleh karena kepandaian semestinya dibarengi dengan perbuatan yang baik, budi pekerti yang luhur. Kepintaran semestinya diamalkan dan dipergunakan untuk maksud tujuan baik, sehingga dapat membantu masyarakat yang kurang mempunyai pengetahuan sehingga dapat meringankan seseorang dalam menempuh segala macam suka dan duka kehidupan di dunia ini, karena itu usahakanlah agar kepandaian yang dimiliki betul-betul merupakan pelita hati yang menerangi kegelapan pikiran.

4.      Yowana

Yohana adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena masa remaja atau masa muda. Yowana ini dapat menimbulkan kegelapan pikiran karena itu pergunakanlah masa muda ini dengan sebaik-baiknya jangan disia-siakan. Anak muda remaja karena kurang pendidikan dan pengalaman, sering kali lebih menyukai kebebasan dan hura-hura, sering kali sok jagoan dan suka berkelahi. Masa-masa ini penuh dengan kegairahan hidup, kesempatan untuk berbuat banyak terhadap apa yang sangat diharapkan dan masa yang baik untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bagi nusa dan bangsa serta agama oleh karena itu sebaikanya semasa masih remaja, anak-anak itu diberi pendidikan agama yang memadai, diberi pelajaran mengenai etika, bagaimana harus berperilaku di dalam masyarakat, sebagaimana harus membawa diri dan lain-lain.

5.      Kulina

Kulina yang artinya keturunan, dari keturunan seseorang mengetahui leluhurnya yang harus dihormatinya. Janganlah sampai takabur, sombong, angkuh dan menghina orang, apalagi menganggap orang lain rendah dan bodoh jika memiliki keturunan yang terhormat dan terpandang.


6.      Sura

Sura adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena minuman keras. Minuman keras merupakan musuh yang sangat buruk. minuman keras bila diminum melebihi dari keperluan tubuh dapat menyebabkan mabuk, sehingga dapat merusak syaraf dan pikiranpun menjadi tidak waras sehingga dapat menimbulkan keonaran, perkelahian, lupa diri dan berbuat yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Karena itu manusia beragama sebaiknya waspada dan menjauhi minuman keras.

Minuman keras tergolong kedalam jenis makanan "rajas guna" atau sifat nafsu. Bagi orang yang telah mantap dalam kedudukan spiritual, minuman keras tersebut tidaklah cocok bagi dirinya. Minuman keras betapapun kecil pengaruhnya, tetap memberi kemungkinan untuk menyeret seseorang kedalam jaringan "mata rantai kejahatan" inilah yang menjadi alasan orang-orang suci untuk menolak minuman keras. Minuman keras dapat dianalogikan dengan wanita cantik. Seorang maha Pandita yang melihat wanita cantik itu akan menganggap sebagai mayat berjalan. Sedangkan bagi lelaki yang nafsunya besar akan menganggap wanita cantik itu sebagai obyek pemuas nafsu. Sementara seekor anjing akan melihat dagingnya yang lezat, Seperti itu pula kedudukan minuman keras, bagaikan wanita cantik, tinggal kita menentukan sikap, mau memilih peran yang mana, sebagai pendeta, lelaki yang bernafsu atau hanya menjadi seekor anjing. Untuk itu disarankan waspadalah dan hindarilah serta jauhilah minuman-minuman keras supaya terhindar dari segala kegelapan pikiran

Kita sering mendengar, membaca, bahkan menyaksikan baik melalui media massa, cetak maupun elektronik, khususnya televisi ditayangkan sebuah atraksi bulldozer yang sedang memusnahkan ribuan bahkan jutaan botol minuman keras yang dipelopori oleh Polri bersama pihak terkait lainnya. Sehingga menimbulkan berbagai tanggapan-tanggapan dari berbagai kalangan khusnya dari kalangan Agama sangat bangga akan sikap tegar Polri untuk memberantas peredaran minuman keras sampai keakar-akarnya. Karena minuman keras dapat mengancam eksistensi bangsa kita, yang dalam jangka pendek dapat menggoyahkan stabilitas keamanan dan dalam jangka panjang dapat mengancam masa depan bangsa.


7.      Kasuran

Kasuran adalah kemabukan (kegelapan pikiran) karena merasa mempunyai keberanian. Setiap orang perlu memiliki keberanian. Tanpa adanya keberanian  orang akan merasa menderita. Hidup ini adalah suatu perjuangan, oleh karena itu keberanian itu sangat diperlukan. Keberanian di sini dipergunakan untuk dapat mengatasi liku-liku kehidupan seperti: keberanian dalam mengatasi penderitaan, beranian membela dan mempertahankan kebenaran dan lain sebagainya. Hendaknya keberanian itu selalu dilandasi oleh dharma. Orang tidak layak mabuk karena keberanian, sebab keberanian hanya karena berani saja tanpa dilandasi adanya kebenaran adalah keliru dan dipandang salah. Keberanian adalah untuk membela yang benar sesuai dengan ucapan “Satyam Ewam Jayate Nartam’ artinya, kebenaran adalah selalu menang dan bukan kejahatan.

Janganlah keberanian ini di salah gunakan untuk berbuat diluar kewajaran sehingga menimbulkan orang lupa diri. Keberanian tanpa disertai dengan pikiran yang sehat dan baik dapat mengakibatkan kerugian atau kesulitan bagi orang lain maupun sendiri sendiri. Keberanian hendaknya selalu dilandasi oleh kebenaran dan dharma, oleh perbuatan yang luhur sesuai dengan ajaran agama.

RINGKASAN MATERI BAB 2 SAPTA TIMIRA (PERTEMUAN 1)

Ajaran susila terutama sapta timira sangat penting dalam kehidupan manusia karena akan memberikan jaminan bagi masyarakat untuk hidup tertib, tenteram dan berkeadilan. Fenomena yang terjadi belakangan ini di masyarakat, seperti tawuran antar pelajar, pergaulan bebas yang menjurus kepada perilaku amoral yang melanda remaja pelajar. Bukan itu saja, banyak remaja yang berperilaku tidak sopan, ugal-ugalan di jalan umum, dan sebagainya. Gejala ini pertanda masyarakat sudah mengalami depresi. Oleh karena itu, Hindu memberikan solusi yang senantiasa relevan sepanjang zaman. Adapun solusi yang ditawarkan oleh agama Hindu dalam rangka mencegah dan menanggulangi perilaku masyarakat yang terjebak dekodensi moral akut, yaitu dengan kembali kejati diri, selalu aktif mengikuti diskusi tentang ajaran suci Veda, menghindari bergaul dengan teman yang suka minum minuman keras, mengikuti dan melaksanakan tradisi baik yang hidup di masyarakat. 

A. PENGERTIAN SAPTA TIMIRA 
Sapta Timira berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sapta berarti tujuh, dan kata timira berarti gelap, suram, dan bodoh. Dengan demikian, Sapta Timira berarti tujuh jenis kegelapan yang menguasai tubuh manusia. Ketujuh jenis kegelapan menyebabkan pikiran manusia menjadi sesat dan sombong. 

B. BAGIAN BAGIAN SAPTA TIMIRA 
Sapta Timira adalah tujuh macam kegelapan pikiran, yaitu : 
SD GUKU YO GAK SUKA 
S = Surupa = mabuk ketampanan 
D = Dhana = mabuk kekayaan 
GU = Guna = mabuk kepandaian 
KU = Kulina = mabuk keturunan 
YO = Yowana = mabuk keremajaan 
SU = Sura = mabuk minuman keras 
KA = Kasuran = mabuk kemenangan

Senin, 06 April 2015

UPAYA-UPAYA MENGHINDAR DARI PERILAKU CATUR PATAKA


Umat Hindu yang taat tidak pernah berhenti untuk melakukan perbuatan baik (subhakarma. sebab dengan melakukan perbuatan yang baik, maka akan dapat menggiring kita mencapai kebahagiaan. Adapun upaya-upaya untuk menjauhkan diri dari perilaku Catur Pataka, antara lain :
1. selalu menjalankan ajaran Tri Kaya Parisudha;
2. mengingat dan menjalankan ajaran Tat Twam Asi;
3. melaksanakan Tri Sandhya 3 kali dalam sehari;
4. mengucapkan nama-nam suci Sang Hyang Widhi;
5. mengusahakan ajaran Tri Parartha;
6. teguh menjalankan Panca Yadnya;
7. menyanyikan lagu-lagu pujian kerohanian atau Dharma Gita; dan
8. mengamalkan ajaran Yama dan Niyama dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam Kitab Sarasamuccaya, 326 disebutkan sebagai berikut:

apan ikang wwang yang pasangsarga lawan wwang papakarma,
kahawa juga ya dening dosa nikang papakarma,
akadyangganing tahen ahurip
milu geseng yan pamisra lawan tahen aking,
matangnyan tan pasahaya,
tan pamitra lawan wwang papakarma juga ngwang.
Artinya:

Sebab orang itu jika bergaul secara berkawan dengan orang yang jahat perbuatannya, tak dapat ia tidak akan ketularan oleh noda perbuatan jahat, sebagai misalnya pohon kayu yang hidup akan turut terbakar, jika bercampur menjadi satu dengan kayu kering. Oleh karena itu, jangan sekali-kali berkawan apalagi bersahabat dengan orang yang jahat perbuatannya.
Dari sloka di atas, dapat diuraikan bahwa kita harus menghindari berteman dengan orang yang jahat perbuatannya, sebab kita dapat tertular oleh noda perbuatan jahatnya. pohon kayu hidup akan ikut terbakar, apabila bercampur dengan kayu kering., karenanya jangan berkawan apalagi bersahabat dengan orang yang jahatperbuatannya. Dengan tidak berteman dengan orang jahat dapat membimbing kita tidak melakukan perbuatan asubha karma. Sebaiknya kita bergaul dengan orang yang berbudi pekerti yang luhur, sebab dengan bergaul dengan orang yang demikian dapat membawa kita ke arah yang baik.